Karena blog kelompok penulis yang berjudul ‘Krisis Identitas Bangsa’, penulis di refleksi ini ingin menulis beberapa ‘brand’ atau merk di bidang teknologi dan fashion & style yang penulis kategorikan sebagai pembangun citra baik identitas bangsa di mata dalam negeri maupun luar negeri. Merk atau ‘brand’ yang penulis ingin ulas ini, adalah merk-merk yang bisa bergengsi di negeri sendiri maupun internasional. Penulis juga sudah merasakan kualitas dari beberapa dari merk-merk ini. Merk-merk ini juga bisa dibilang sebagai pembangun dan pemotivator dari inovasi-inovasi dalam teknologi maupun fashion.
Pertama, penulis ingin mengulas merk-merk atau ‘brand’ di bidang fashion & lifestyle dan penulis ingin agar masyarakat Indonesia tahu, adalah sebagai berikut (Penulis mengulas berdasarkan pandangan penulis):
Pertama yaitu bernama Sixteen D’Scale. Ini adalah brand ‘distro’ pertama yang penulis pakai. Saat pertama penulis membeli jeans dari merk tersebut, yang penulis pikir yaitu ‘apakah merk jeans ini cukup terkenal? Berkualitaskah jeans ini?’. Karena waktu itu penulis belum tahu apa-apa tentang merk ini, jadi rasanya datar-datar saja ketika memakainya ke mana-mana. Lalu, ketika berada di kelas 12 SMA penulis bersama teman-teman sedang kumpul di suatu restoran di bilangan Cilandak. Mereka bilang bahwa ada salah satu merk pakaian dan celana dari Indonesia yang mereka bilang itu keren yaitu bernama Sixteen D’Scale. Sounds like merk baju-celana dari luar negeri memang. Tetapi setelah saya selidiki lebih dalam dengan melihat websitenya dan mendatangi tokonya, ternyata memang produk ini adalah buatan dalam negeri dan berasal dari Bandung, Jawa Barat. Penulis merasa bangga ketika mendengar produk ini sudah sampai kawasan Oceania tepatnya di Australia dan ada di berbagai negara di kawasan Asia.
Menurut penulis, celana jeans yang diperjualkan di gerai-gerai ‘distro’ di kawasan Tebet dan di daerah Bandung ini, mempunyai kualitas yang sama dengan jeans-jeans luar negeri yang dijual di Indonesia dan di luar negeri. Orang-orang Indonesia suka memakai produk-produk luar negeri yang sifatnya nyaman dipakai dan bergengsi. Sehingga, menurut penulis, produk Indonesia ini muncul sebagai pesaing dari produk luar negeri tersebut. Merk ini tidak hanya memproduksi jeans, tetapi juga memproduksi t’shirt/kaos, kemeja, dll. Produk ini tidak hanya bermarkas di Bandung, tetapi mereka jug
Merk kedua yaitu bernama Petersaysdenim (PSD). Merk jeans ini awalnya penulis lihat di majalah anak muda yang bernama Hai. Lalu penulis coba telusur-telusur lewat internet, majalah dan berbagai ‘social media’, ternyata memang Petersaysdenim adalah brand jeans yang cukup terkenal di kalangan muda di Indonesia ini. Pemilik merk jeans ini bernama Peter (kurang tahu Peter siapa nama lengkapnya). Lebih lagi, produk ini sama seperti Sixteen D’Scale di atas, yaitu berasal dari Bandung. Produk ini juga sudah tembus pasar di Amerika Serikat. Rata-rata pembelinya adalah usia muda ke atas.
Di Indonesia, merk jeans ini selalu dipakai oleh para musisi/band yang rata-rata beraliran rock-punk seperti Superman is Dead, Killed by Butterfly, Rocket Rockers, Saint Loco, dll dan di Amerika pun produk ini dipakai dan di-endorse (official apparel) oleh sejumlah band rock terkenal di sana. Yang penulis tahu band yang di-endorse oleh PSD yaitu seperti A Rocket To The Moon (band beraliran rock-alternative yang terkenal lagunya yaitu “Like We Used To”) dan Everytime I Die (penulis kurang tahu genre apa yang diusung oleh band ini, yang penulis tahu band ini mengusung genre rock-punk). Produk ini bermarkas hanya di Bandung. Untuk memperluas penjualan, mereka menerapkan system belanja ‘online’ sehingga para konsumen bisa mudah membeli PSD.
Lalu yang ketiga adalah J.CO Coffee & Donuts. J.CO Coffee & Donuts sepengetahuan penulis, membuka gerai pertamanya di Cilandak Town Square. Pada awalnya penulis mengira ini adalah salah satu kafe yang berasal dari luar negeri yang bermunculan lagi di negeri kita ini. Tetapi, ketika penulis melihat salah satu acara fashion & lifestyle di salah satu stasiun TV, pemilik dan pendirinya ini yaitu seorang Indonesia yang bernama Johnny Andrean. Gerai-gerai J.CO sekarang mulai menyaingi gerai-gerai kafe luar negeri seperti Starbucks. Kehadiran J.Co di Indonesia terus menjamur. Gerai-gerai J.Co sudah bisa dijumpai di Singapore dan Malaysia. Anterian pembelian donat ini sering terjadi di kedua negara tersebut.
Yang keempat yaitu Jeans Lea. Seperti yang kita lihat di internet, TV, ataupun media lainnya, logo dari jeans ini adalah berwarna merah terus ada birunya yang menyerupai bendera Amerika Serikat. Lalu, jika kita selidiki lagi maka akan anda kaget jika produk ini adalah produk yang berasal dari Indonesia. Menurut penulis, kualitas jeans yang dihasilkan oleh produk ini sudah sejajar dengan jeans Levi’s Strauss yang terkenal. Sayangnya, merk ini kurang luas dikenal sekarang ini. Jeans ini berjaya pada masanya dalam meningkatkan produk lokal berkualitas.
Yang kelima yaitu BATIK. Batik adalah Indonesia. Itu adalah ‘quote’ yang sering penulis dengar. Ya memang betul, batik itu berasal dari Indonesia, lebih tepatnya dari Pekalongan. Batik sekarang telah menjadi setelan wajib bagi para pemuda-pemudi jika ingin bekerja ataupun ngampus. Batik menurut pandangan penulis sekarang ini berinovatif. Banyak batik yang bermotf variasi sehingga kita tidak bosan melihatnya. Perlu adanya usaha pengklaiman dari Batik hingga diakui negara-negara lainnya sebagai warisan budaya Indonesia.
Sekarang penulis akan mengulas beberapa produk di bidang teknologi yang menjadi pendongkrak citra Indonesia di mata nasional maupun Internasional.
Pertama yaitu produk baterai bernama ABC. ABC sudah penulis temui sejak kecil kalau lagi main remote kontrol atau mainan lainnya. Penulis kira ini adalah produk Indonesia yang hanya berdiam di dalam negeri. Ternyata, merk baterai ini sudah mendunia ada di 50 negara. Baterai ABC mempunyai kualitas yang tahan lama dalam soal baterai. Terutama baterai Alkaline yang menjadi bagian dari produk ABC, itu mempunyai kemampuan baterai yang ‘longlast’ sehingga tidak cepat habis dalam penggunaannya.
Kedua yaitu produk sepeda bernama Polygon. Sepeda ini sudah ada sejak penulis masih kecil. Namun tidak tahu apakah produk ini produk luar atau lokal. Setelah ditelisir, ternyata produk ini dibuat di Jawa Timur, Sidoarjo. Ini cukup mengejutkan karena Polygon sudah memproduksi dan mengexpor sepedanya di tiga negara tetangga yaitu Australia, Singapore dan Malaysia.
Oleh: Rafi Eranda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar